Senin, 22 Oktober 2012

Mengenal Permainan Tradisional " CONGLAK DAN ENGKLE"

CONGLAK
Permainan yang satu ini memiliki banyak nama. Lain daerah, lain pula sebutannya. Sebagian besar masyarakat Indonesia mengenalnya dengan nama congklak. Peneliti mainan sekaligus pendiri Komunitas Hong, M. Zaini Alif mengungkapkan permainan itu dikenal dengan congkak di Sumatera. Sedangkan di Lampung disebut dentuman lamban. Beda lagi di daerah Jawa dikenal dengan nama congklak, dakon, dhakon, atau dhakonan. Buat mereka yang tinggal di Sulawesi, permainan ini disebut mokaotan, aggacalang, atau mogarata. “Kalau di kawasan Eropa Timur disebut mancala. Sebutan di India itu pallankuzhi,” terang Zaini. Menurut dia, permainan yang menggunakan 16 lubang ini biasanya dilakukan oleh perempuan. Masing-masing pemain duduk berhadapan untuk mengisi 8 lubang yang mereka miliki. Setiap lubang kecuali yang ada di sebelah kiri masing-masing pemain diisi dengan tujuh buah biji atau kerang. Pemenangnya adalah pemain yang berhasil mengumpulkan biji atau kerang paling banyak. Menurut Zaini, permainan itu mendidik anak agar rajin menabung dan bersikap ekonomis. Dalam setiap langkahnya, sang anak diingatkan untuk memenuhi kebutuhannya sedikit demi sedikit. Apabila kerang atau biji dakonnya berlebih akan disimpan di lumbung. “Kalau ditarik maknanya, maka kita harus selalu berusaha memenuhi kebutuhan dari hari ke hari. Apabila ada berlebih ditabung dan berbagi,” papar dia.
ENGKLE Mainan yang satu ini sangat populer di dunia. Orang di Jawa Barat menyebutnya engkle hasil serapan dari bahasa Belanda hinkelen. Anak-anak di Inggris mengenalnya dengan nama hopscotch, sedangkan di Brazil disebut amarelinha. Sedangkan di Jerman, Austria, dan Swiss disebut himmel und holle yang artinya surga dan neraka. Menurut Zaini, cara memainkannya sangat sederhana. Apabila di tanah maka anak-anak tinggal membuat garis kotak-kotak berjajar yang disusun dengan angka-angka di dalamnya. Selanjutnya si pemain akan melemparkan batu ke kotak pertama. Dia harus melompat dengan satu kaki ke kotak tersebut. Terus begitu selanjutnya sampai ke kotak paling ujung. Setiap kotak, kata Zaini, melambangkan hari yang ada dalam satu pekan. “Setiap anak harus melangkah dengan hati-hati dari hari ke hari. Dia mulai dari kotak earth (bumi) sampai di atas ada heaven (surga),” kata dia. Sumber : id.berita.yahoo

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tinggalkan Pesan Untuk memberiakan saran dan Kritikan
Terima Kasih..